It’s not about how good you are. It’s about how good you want to be!

Psikotes Sialan

March 12th, 2009 by Mia

Gara-gara nge-junk di FB si Fajar, saya jadi inget satu kejadian memalukan di masa lampau… Phew!!!

Ceritanya, waktu kita jadi mahasiswa baru dulu ituuu… setelah penataran kita diikutsertakan dalam satu psikotest. Inget ajah, disuruh ngelingkarin kata-kata ngga jelas… ngitung berurut ke atas… makin lama orang makin naik kok gue makin turun *abis orang-orang pada sibuk ngitung, gw celingakcelinguk berharap ada contekan, hayahhhhh*

Read the rest of this entry »

Posted in ngakunya farmasi, curhat, iseng | 6 Comments

Loyalty Goes Where the Money Blows

February 19th, 2009 by Mia

From: “Nur Anisa”<nanisa_tiara@xxxxx>
Sent: 16/02/09 21:55:43
To: “Ayahbunda-Online@ yahoogroups. com“<Ayahbunda-Online@ yahoogroups. com>
Subject: [Ayahbunda-Online] polemik puyer

nis ngerti perasaan para ibu2 pmilik dd2 kcl.tolong, jgn dulu kburu
panik ya. saya menilai brita rcti tdk relevan, dia bcra dr sisi org
awam. mana ada objektifitas diliat dari satu kasus dokter mj (brp juta
dokter di indonesia?), knp yg jd pmbcra apoteker, bkn dokter? murahan
ya, cm bs kritik. kasi solusi dong. kalo ngerasa lbh pinter dari dokter
yg udh bertahun2 sekolah-apalagi udh smp sp anak. kami punya sumpah
lho…

nis menilai itu ga lbh buat narik iklan n rating semata. coba liat di
milis dokter_kita ya. kami sdg memperdebatkan dsana. buat nis syrup n
liquid lbh bahaya lho…

———— ——— ——— ——
Assalamu’alaikum teman2…

Mohon tanggapannya ttg polemik puyer ini
Apalg mail dr dktr ini ckp mengena d hatiku…
Apakah memang ini bs jd pembenaran bhw dokter ga bs menghargai pendapat apoteker khususny mengenai obat2an yg notabene org farmasi yg bljr lebih byk?
Gmn bangsa kita bs maju…
Hy di Indonesia aja yg tggl pk puyer ya….

Wassalamu’alaikum
Finna

Pink,

Selama masih pa-betot-betot urat, yg satu merasa lebih tau dari yang lain, yang satu merasa lebih tersumpah dari yang lain, baik si dokter maupun apoteker,

kayanya emang ngga akan selesai-selesai masalah ini :-)

sampe 2015 juga polemik puyer pasti masih ada. percaya deh. Soalnya polemik ini juga bukan setahun dua tahun belakangan aja jadi masalah, cuma tiba2 bursting bubble-nya keliatan skrg-skrg.

Aku pernah post tanggapan disatu milis (femina friends klo gak salah) dan ditanggapi (didukung) oleh dokter siapa gitu (lupa tu dokter punya web & suka jawab konsultasi di media). Polifarmasi bentuk puyer pada beberapa aspek emang ngga bisa dihindarkan, terutama utk anak-anak. Masa tega ngasih obat 4 macam suruh telen satu persatu?

Kuncinya mungkin memang di apoteker. Apoteker punya wewenang lho memberi penjelasan/argumen atas regimen obat yang tidak sesuai atau kontraindikatif. Dan kalau argumennya memang berdasarkan ilmiah, dokter jg gak akan komplain.

Problemnya adalah : tiap kali apotek nerima resep, yg terima bukan apoteker.

Soalnya apotekernya ngga pernah ada di apotek, mostly cuma TTD report aja (ya kan Ier, kalo dirimu kasus langka :D)

Karena fee apoteker (di apotek) keciiilll… banyak yg dibayar dibawah UMR. klo ngga sambil nyambi yg lain, apoteker hidup cuma dari minum aer teh manis doang sama nasi putih (deuh kalah yg deh Caleg yg lagi puasa mutih krn pengen menang pemilu).

Karena apotek margin untungnya keciiiilll, persaingan berat terutama dgn toko-toko obat gelap, maka kalo bayar apoteker biar mereka full time (let say 2,5jt/bln ini udah gaji minimum fresh grad S1 for working from 9 to 5, and 5 days a week), bisa-bisa baru 6 bulan apoteknya gulung tikar.

Baca di link republika online kemarin (yg ada Aldi aja pokoknya mah!) katanya apoteker di Indonesia masih kurang, baru 8000 lulusan per tahun (tidak sebanding dengan jumlah penduduk), dibandingkan dgn Jepang.

Tapi masalahnya yg lulus juga tidak dijamin ketersebarannya, dan tidak dijamin pasar kerjanya.

8000 lulusan, perkembangan 4% per tahun kurang? Kok sebagai apoteker saya ngerasa malah jumlah ini kelebihan… sampe-sampe banyak apoteker yg banting setir ^_^

*bentar… klo 4% pertahun dari 8000 lulusan, berarti cuma 320 apoteker tiap tahun? ini dari berapa universitas ya? Karena ITB aja bisa meluluskan lebih dari 100 orang/tahun, belum lagi UI yang juga berbisnis program Apoteker, dan tentunya universitas negeri dan swasta lain yang juga meluluskan apoteker tiap tahunnya*

Ngomongin pelayanan? duh please deh yaaa hari gini… Kalau kebutuhan pribadi tidak terpenuhi, seseorang tidak akan pernah bisa memikirkan ‘kebutuhan’ orang lain. Berani menuntut pelayanan paripurna dari seorang Apoteker di apotek, beranikan dulu menjamin kesejahteraannya!

Itu knapa hampir semua ticketing busway jutek2, soalnya gajinya kecil jadi jangan diharap mereka ramah pada Anda karena perutnya masih laper :D

Loyalty goes where the money blows.

 

 

 

Posted in ngakunya farmasi | 6 Comments

Sertifikat Uji Kompetensi vs BNSP

November 5th, 2008 by Mia

Saya tergelitik akibat diskusi dengan kakanda semalam tentang Sertifikasi Kompetensi Apoteker (diskusinya sambil ngelitikin hehehe), belio bertanya tentang :
Apakah Sertifikasi Kompetensi Apoteker udah disahkan oleh BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) ?

Nah loo… saya kira tadinya udah. Tapi trus belio ngajak saya berkunjung ke web http://bnsp.go.id, cari mencari dari sekian daftar lembaga sertifikasi kompetensi, dan kita berdua ngga nemuin apa-apa yang menyatakan bahwa ISFI atau siapapun memiliki wewenang (lisensi) untuk mengadakan uji kompetensi. Bahkan di daftar calon LSP pun tidak ada lembaga yang mewakili profesi apoteker. Artinya, ya jelas! Ngga ada LSPnya.

Read the rest of this entry »

Posted in ngakunya farmasi, me & unduk's moment, iseng | 31 Comments

Gerakan : JANGAN MASUK FARMASI!!!

October 14th, 2008 by Mia

Buat Anda yang punya putra putri, atau adik, atau Anda sendiri yang baru di SMA dan punya cita-cita masuk jurusan/fakultas/sekolah FARMASI, sebaiknya dipikir dua ribu kali sebelum mengambil keputusan.

Kenapa?

Anda akan dibebani dengan mata kuliah plus praktikum yang memberatkan (4-5 hari praktikum @ 4 jam tiap minggu).

Anda akan ‘dilatih’ melakukan hapalan mati yang… sebetulnya lebih butuh pemahaman daripada hapalan. Tapi yah karena beban kurikulum yang tidak sebanding dengan jumlah jam belajar, maka ini yang terjadi.

Anda akan dipaksa lulus 4 tahun. Lulus lebih dari itu akan dianggap AIB.

Anda masih harus menghadapi pendidikan Apoteker selama 1-1,5 tahun setelah lulus S1. Pendidikan Apoteker membutuhkan biaya pendidkan lebih dari 10 juta, dan ujiannya dibuat ngejelimet se-ribet-ribetnya seakan-akan Anda menghadapi medan perang, bukan dunia profesi.

Hampir setiap tahun selalu ada universitas yang membuka jurusan farmasi. Anda akan bersaing dengan puluhan ribu lulusan baru (dan lulusan lama yang belum aja dapat pekerjaan) setiap tahunnya dalam memperebutkan kursi di dunia karir. Please deh, Anda kuliah udah susah, cari kerja juga susah!

Yang paling menyesakkan dari semuanya, jika Anda memilih untuk bekerja dalam profesi Apoteker pelayanan seperti penanggung jawab apotek, PBF, rumahsakit, yang notabene secara GAJI jauh lebih kecil daripada mereka yang berkecimpung di bidang industri (pabrik ataupun marketing), Anda diwajibkan oleh ISFI untuk mengikuti UJI KOMPETENSI APOTEKER dengan biaya umumnya di atas satu juta rupiah.

Artinya selama ini Anda dianggap tidak kompeten. Ha. Ha.

Dan uji ini dilakukan secara berkala. Artinya sekali Anda memegang sertifikat, Anda akan selalu di-review ke-kompetensi-annya.

Dan tidak menjamin Anda mendapatkan gaji yang lebih besar dari apa yang sudah Anda dapatkan.

Jadi katakan ini pada diri Anda sendiri, atau pada orang-orang yang Anda cintai, atau tidak Anda cintai juga gapapa. Katakan pada semua.

 

 

 

 

 

JANGAN MASUK FARMASI!!!

 

 

 

 

 

It really suck! Believe me!

 

 

 

Dengan cita-cita yang sama, sebaiknya alihkan minat mereka ke dunia kedokteran sekalian. Puguh. Dan kalo ambil profesi SpKK bisa jadi dokter klinik kecantikan yang sekarang lagi booming, dan ilmunya pun ketauan tiap tahun berkembang sangat pesat! Puguh gitu klo musti sertifikasi!

Posted in ngakunya farmasi, ngamuk | 74 Comments