It’s not about how good you are. It’s about how good you want to be!

Iga Penyet atau Iga Bakar Bumbu Rujak?

October 29th, 2009 by Mia

Wah harusnya posting semalem nih tapi keburu tepar hehehe… tapi biar lambat asal enak, gapapa…

Mo curcol nih, abis makan di Warung Daun, di Tebet. Lokasinya sebetulnya belum termasuk tebet yah… kalo dari arah kampung melayu, setelah sungai ciliwung sebelah kiri ada jajaran toko-toko baru, ada Indomaret dan kantor Maktour. Nah, resto ini letaknya antara Indomaret dan Maktour.

Saya emang penasaran banget sama tempat ini, hampir setiap menuju sudirman selalu lewat tempat ini, tapi ngga pernah mampir.

Kemarin magrib, habis anter Unduk interview, sebelum pulang kita mampir ke tempat ini. Sambil nunggu ngehindarin macet di terowongan by pass menuju ke rumah, plus emang kaki udah pegel buanget gara2 macet di kalibata hampir setengah jam dari mulai mal kalibata sampe pertigaan dewi sartika, phew!

Ternyata tempatnya lumayan nyaman, ada 2 area terpisah, AC (non smoking kali ya) yang tertutup ruang berkaca dan ruangan tanpa AC yg langsung nyambung sama teras. Begitu disodori menu, saya langsung tertarik sama Iga Penyet… hmmm, kaya apa ya rasanya, baru nemu soalnya menu kaya gini. Sementara Unduk memilih Iga Bakar Bumbu Rujak. Untuk nasi putih, ada pilihan nasi biasa dan nasi bakar polos, langsung dwongg pilih nasi bakar hehehe…

Read the rest of this entry »

Posted in kuliner | 7 Comments

Bebek Kaleyo, Bukan Bebek Biasa *halagh*

September 23rd, 2008 by Mia

Setelah kemarin berhasil bertanya-tanya kira2 dimanakah letak Bebek Kaleyo, akhirnya sekitar jam setengah 6 sore, saya dan teman saya, Manik - yang semangat begitu saya bilang mau makan bebek Kaleyo karena pernah dapet deliverynya, dan katanya enak - meluncur dengan bajaj dari ORIFLAME rawamangun ke Jl Waru. Kirain-kirain, tempat itu agak jauh gituw… ternyata bener, deket sama terminal.

Bagi Anda yang naik mikrolet O2 dari Kp Melayu, atau naik mikrolet 04 dari rawasari, atau yang naik angkot-angkot merah yang dari arah kalimalang, pasti lewatin jalan ini kok.

Waktu sampe disana, seperti yang sudah saya duga sebelumnya, penuuuuuuuuuuuuuuhhhhhhhh!!!!!! Beruntung ada dua cewe yang kira2 sebaya duduk berhadap-hadapan di satu sisi meja, jadi saya dan Manik bisa duduk di sisi yang satunya. Kalo di blog orang yang saya baca ada yang komen “aduh, gak tahan ngantrinya… kenyang sama antrian!”, ya emang siy… klo diitung-itung kira2 dari saya order sampe keluar makanan hampir setengah jam.

But it worth waiting begitu liat bebeknya, hehehe…

Saya dan Manik sama-sama order Bebek Cabe Ijo. Menunya sendiri ada bebek goreng, bebek bakar dan bebek cabe ijo. Oh iya, saya pesen 2 potong bebek (utk saya sendiri) sekaligus. Just in case bebeknya kecil kaya di Hoya, huehehehe… *ngeles*

Walopun Manik udah warning, “gede kok!”. Teteuppp… it’s never enough with duck (terutama bales dendam sama bebek hoya dooooggg!!!)

Begitu dateng, wahhhh… iya ya ternyata cukup gede. Ukuran bebeknya kira-kira sama lah dengan bebek Midio di Jatiwaringin itu. Cabe hijaunya juga gak malu-malu menumpuk menutupi potongan bebek dari ujung ke ujung dengan ketebalan setidaknya setengah senti di atas permukaan bebek. Banyak gitu loh. Mouth watering lah lumayan…

Here comes the duck, ladies & gentlemen!!!

 kaleyo1.jpg

Bebeknya empuk banget, just as I expected. Juicy dan berminyak-minyak (terbantu juga oleh minyak dari sambel cabe ijo-nya). Cuma untuk cabe ijonya siy saya masih kurang puas. Klo di Midio, sambel ijonya adalah bener-bener cabe ijo yang diuleg dengan tomat ijo juga, dan pastinya pake bawang putih juga siy, baru dimasak jadi sambel goreng. Sedangkan di Kaleyo, cabe ijonya cenderung kering karena dihancurkan kasar dengan - dugaan saya - food processor. Karena cabenya emang bentuknya cincangan kasar dan ngga pedes.

Proses nguleg lebih efektif mengeluarkan pedas pada cabe karena dengan diuleg, sel-sel di cabe yang mengandung capsaisin akan pecah dan mengeluarkan capsaisinnya, larut ke minyak. Sedangkan proses penghancuran dengan food processor tidak akan membuat kantung-kantung capsaisin pecah secara maksimal. Itu kenapa rasa cabenya ngga pedes-pedes amat.

Tapi sambel mangganya bikin saya memaafkan sang cabe ijo. Sambel mangganya manis, ngga asam kecut kaya di Ginyo. Sayangnya jumlahnya juga sedikit banget. Beruntung saya masih bisa ngorek-ngorek sisa-sisa sambel mangga dari wadahnya *ih jorok yah*

Total yang harus dibayar saya dan manik kemarin hanya 59rebuan. Itu termasuk : 3 potong paha bebek cabe ijo, 2 es teh manis, 2 nasi putih, dan 1 teh botol. Murah.

Jadi, untuk harga berbanding kualitas, saya kasih nilai bebek Kaleyo ini 9.5 deh. Sama dengan bebek Midio deh, soalnya klo makan di Midio jatuhnya juga segitu :-)

Posted in kuliner | 8 Comments

Bebek Hoya : Bebek Basa Basi… X(

September 22nd, 2008 by Mia

Sabtu kemarin saya & niken iseng-iseng ke restoran bebek baru di Lantai 3A Plaza Semanggi. Namanya Bebek Hoya.

Desain restonya siy OK lah… Balinese bangeud. Menunya juga cukup bervariasi. Ada Bebek Betutu, Bebek Goreng Kremes, Bebek Cabe Ijo, dan apa lagi yah… lupa.

Saya & Niken sama-sama pesen bebek cabe ijo. Satu porsinya berisi nasi putih, bebek goreng, kering kentang dan urap sayur. Harganya Rp. 25.000 (belum termasuk PPN). Kita juga iseng pesen asinan satu porsi makan berdua.

Heugh… Entah kenapa ya, kayanya makin kesini makin pada berani bikin resto bebek, tapi kok rasanya agak ngga keruan. Termasuk si Bebek Hoya ini! Bebeknya mungil, trus kering kerontang (digoreng kering), yang saking keringnya, citarasa bebeknya (agak berlemak atau juicy karena limpahan lemak yang meleleh, plus aroma bebek yang khas) sama sekali gak berasa sama sekali. Yaaaa jadi lebih mirip ayam daripada bebek.

Truzzz, cabe ijonya juga basa basi banget. Cuma sekitar satu sendok makan dilelerin aja ke atas bebeknya. Ngga membantu rasa. Ngga nendang. Ngga OK.

Kehadiran kering kentang dan urab jelas-jelas tidak membantu, malah cenderung mengganggu. Mungkin maksudnya jadi back-up lauk karena bebeknya yang mungil bin imut?

Asinannya pedesnya GILA! Sayangnya kurang manis. Cuma pedes tok sama asam cuka. Sukses bikin perut melilit malem harinya hahaha…

Sayang deh gak sempet foto, jadi gak ada skrinsyut. Abis waktu itu keburu laper sih ^_^

Duh duh, kok gak ada yah yang bisa ngalahin Bebek Cabe Ijonya Kafe Solo (Midio) di Jatiwaringin! Potongan bebek yang besar, empuk, juicy, dengan limpahan sambel cabe ijo yang juga berminyak-minyak, dan rasa pedesnya yang nendang, dengan harga yang sangat murah untuk hitungan resto bebek (satu potong bebek cabe hijau Rp. 13.500, nasi uduk Rp. 3.500) bener-bener bikin siapapun yang udah nyobain pasti pingin balik lagi ^_^

lokasi : persis sebelah Jatiwaringin Junction, ato komplek ruko di sebelah pintu tol jatiwaringin (bukan jatibening yah, jangan salah!). Kalo dari arah sudirman, langsung keluar tol ke arah kalimalang, dari pintu tol kira2 100 meter lah.

Ayo, siapa yang mau adu bebek? Kasih info dong tempat makan bebek yang niqmat bin enak yang pernah Anda coba…

Asal jangan Ginyo di Tebet yah! Produksi masakan bebek kok masal, bebek yang tidak segar karena sudah dimasak sebelum kita tiba. Bumbu yang ala kadarnya, ukuran bebek yang imut. Ugh, highly not-recommended!

Posted in kuliner, iseng | 4 Comments