It’s not about how good you are. It’s about how good you want to be!

Gerakan : JANGAN MASUK FARMASI!!!

October 14th, 2008 by Mia

Buat Anda yang punya putra putri, atau adik, atau Anda sendiri yang baru di SMA dan punya cita-cita masuk jurusan/fakultas/sekolah FARMASI, sebaiknya dipikir dua ribu kali sebelum mengambil keputusan.

Kenapa?

Anda akan dibebani dengan mata kuliah plus praktikum yang memberatkan (4-5 hari praktikum @ 4 jam tiap minggu).

Anda akan ‘dilatih’ melakukan hapalan mati yang… sebetulnya lebih butuh pemahaman daripada hapalan. Tapi yah karena beban kurikulum yang tidak sebanding dengan jumlah jam belajar, maka ini yang terjadi.

Anda akan dipaksa lulus 4 tahun. Lulus lebih dari itu akan dianggap AIB.

Anda masih harus menghadapi pendidikan Apoteker selama 1-1,5 tahun setelah lulus S1. Pendidikan Apoteker membutuhkan biaya pendidkan lebih dari 10 juta, dan ujiannya dibuat ngejelimet se-ribet-ribetnya seakan-akan Anda menghadapi medan perang, bukan dunia profesi.

Hampir setiap tahun selalu ada universitas yang membuka jurusan farmasi. Anda akan bersaing dengan puluhan ribu lulusan baru (dan lulusan lama yang belum aja dapat pekerjaan) setiap tahunnya dalam memperebutkan kursi di dunia karir. Please deh, Anda kuliah udah susah, cari kerja juga susah!

Yang paling menyesakkan dari semuanya, jika Anda memilih untuk bekerja dalam profesi Apoteker pelayanan seperti penanggung jawab apotek, PBF, rumahsakit, yang notabene secara GAJI jauh lebih kecil daripada mereka yang berkecimpung di bidang industri (pabrik ataupun marketing), Anda diwajibkan oleh ISFI untuk mengikuti UJI KOMPETENSI APOTEKER dengan biaya umumnya di atas satu juta rupiah.

Artinya selama ini Anda dianggap tidak kompeten. Ha. Ha.

Dan uji ini dilakukan secara berkala. Artinya sekali Anda memegang sertifikat, Anda akan selalu di-review ke-kompetensi-annya.

Dan tidak menjamin Anda mendapatkan gaji yang lebih besar dari apa yang sudah Anda dapatkan.

Jadi katakan ini pada diri Anda sendiri, atau pada orang-orang yang Anda cintai, atau tidak Anda cintai juga gapapa. Katakan pada semua.

 

 

 

 

 

JANGAN MASUK FARMASI!!!

 

 

 

 

 

It really suck! Believe me!

 

 

 

Dengan cita-cita yang sama, sebaiknya alihkan minat mereka ke dunia kedokteran sekalian. Puguh. Dan kalo ambil profesi SpKK bisa jadi dokter klinik kecantikan yang sekarang lagi booming, dan ilmunya pun ketauan tiap tahun berkembang sangat pesat! Puguh gitu klo musti sertifikasi!

Posted in ngakunya farmasi, ngamuk |

74 Responses

  1. astra Says:

    setuju!
    tante sy org farmasi..super freak..

  2. seno Says:

    Utk karir yang gak jelas dengan salari dibawah UMR bahkan tanpa jaminan/asuransi masa depan/tua, emang skarang harus kompeten ya.. Hihi kebangetan nich dunia farmasi (termasuk regulatorya, pantesan pada ngamuk2 :)

    Setuju! klo perlu jadi gerakan nasional Bu.. zaman susah gini dimana ROI diitung, sayang bakat+uang+pengorbanan orang2 tercinta anda klo gak sampai bermakna.. Berarti lebih mending tetanggaku yang sekolah STM.. gaji bisa 4jtan, bisa jalan2 ke luar negeri pula..

    Welcome 2 d real world..

  3. Mia Says:

    # Seno

    Sekadar UMR mah insya Allah nyampe, bahkan (jauh) di atas itu utk posisi-posisi tertentu. Yang lebih jadi polemik adalah sebetulnya pentingnya sertifikasi kompetensi untuk satu profesi yang jelas-jelas dididik utk itu. Jadi siapa hayo yg gak kompeten?

    Kita (praktisi profesi) atau dosen yang ngajarinnya?

    untung saya termasuk orang yang punya pilihan lain dalam mencari nafkah (yang insya Allah lebih baik!) jadi gak harus berada dalam posisi terpaksa bikin sertifikat.

    Mudah2an teman2 sesama apoteker bisa seberuntung saya.

  4. Seno Says:

    Ya.. Ladang nafkah itu luas, keep semangat utk menjemput n terus inovatif+kreatif, jangan kerdilkan potensi n nilai manfaatnya hanya karena stempel pendidikan, malu akh.. Tapi bagi yang ‘terpaksa’ mudah2an masih diberi ikhlas sehingga setidaknya masih tercatat sebagai ladang ibadah..

    Gak ada masalah koq dgn kompetensi, koq jadi polemik? bukannya itu alat ukur standarisasi n feedback bagi apoteker, masyarakat, maupun profesi itu sendiri.. Pendidikan mah gak cukup lah, kompetensi itu harus dibangun..

    Cuma catatannya ya.. Biar fair n transfaran, didefinisikan dlu kompetensi, komponen2nya beserta grade kompetensinya.. Feedback harus berkala, n melibatkan stakeholder yang ‘touch’ (atasan, bawahan, rekan kerja, dll) bukan hanya penguji.. Dilakukan pembinaan berkelanjutan utk naikin grade.. ada nilai tambahnya jga bagi apoteker+instansinya dengan menciptakan sistem ‘pay 4 performance+competence’.. Dan yang terpenting harus makin dirasakan end-usernya..

    Wallah sok serius.. Yang beneran serius (utk kondisi saat ini) ya Gerakan Jangan Masuk Farmasinya, hehe.. Klo asisten apoteker gmana, bener gak harus D3 skarang, pastinya lebih miris lagi ya..

  5. mia Says:

    justru itu kang, alat ukur standarisasinya jg jadi pertanyaan. standar menurut siapa? mengingat banyak skali univ yg menyelenggarakan S1 farmasi & apoteker. lalu knapa tidak distandarkan saja sistem pendidikannya (padahal mah pasti sudah, karena ada kurikulum).

    dan setuju tentang pendefinisian kompetensi dll di alinea itu, karena justru poin itu yg kurang jelas… beserta poin ‘kemanakah duitnya pergi’ hehehe…

    utk AA yang musti D3, sepertinya begitu krn skrg gak ada lagi SMF, minimal akfar. gimana yah, kuliah 3 taun tapi pekerjaan (dan gaji)nya segitu aja… dari awal isyu ini saya dengar (taun 2003), kita2 aja udah miris dengernya *menarik napas panjang*

    Mudah2an makin kesini tiap orang makin cerdas menilai potensinya masing-masing dan tidak mau lagi terkotak-kotakkan oleh embel-embel ‘latar belakang pendidikan’.

    Kasarnya, cari duit mah insya Allah bisa dimana aja asal halal ^_^ setuju kang? Dan aplikasi ilmu pendidkannya jadi ladang ibadah aja…

    contohnya, http://mediasehat.com yang nonprofit itu lho (alias gak dapet-dapet pemasukan yang berarti bahkan utk sekadar belanja literatur hahaha)

    *jadi promosi deh*

  6. Ade Says:

    Hi Mia,

    emang uji kompetensi dah wajib ya hukumnya? kayaknya sih belum ada peraturan dari Menkes ya?

    Aku dan hubby adalah lulusan farmasi dan Alhamdulillah sekarang ini hubby ditransfer ke US dari perusahaannya..

    Aku juga sebelum dipindah kesini juga bekerja di sebuah perush farmasi asing dengan gaji yang Alhamdulillah lumayan.. :-D

    Malah bersyukur banget dulu kuliah di Farmasi karena nyari kerja ga susah..

    Just my two cents ;-)

  7. Ade Says:

    Hi Mi,

    Makasih yaa infonyaa..
    hiks maklum jadi ga update nih..

    BTW, aku link yaa

  8. niena Says:

    hai, saya adalah salah satu orang yang pernah kuliah di Farmasi. Buat saya Semua pelajaran bisa di pelajari dan di ikuti bagi yang mampu sesuai kapasitas otak dan bakat.
    Mungkin bagi yang tidak mampu ya mending pilih jalur yang lain aja.
    Semua bidang pasti ada aturan mainnya, begitu juga FARMASI.
    Jadi jangan sampai salah pilih aja deh intinya. Sesuaikan kemampuan otak bakat dan kantong. OK!!!!!!!!!

  9. Mia Says:

    Sip mba Niena, alhamdulillah mba Niena berarti memang berada di jalur yang cocok ^_^

    Klo saya ternyata ngga… soalnya jerih letih dan duitnya gk sebanding hihihi…

    Salam kenal ya mba ^_^

  10. Fajar Ramadhitya Says:

    Setuju, Jangan Masuk Farmasi

    kalau ndak punya tekad membaja, kreatifitas dan panggilan jiwa untuk melayani

  11. citra Says:

    kayaknya..klo kamu kecewa and gagal kuliah di farmasi…gak usah dechh nyuruh2 orang lain untuk gak masuk farmasi….saya apoteker..cari kerja lumayan gampang kok..temen2 1 angkatan saya aja hampir 100% udh kerja…yang pindah kerja pun cepet tuhh yg dapet kerja lagi….btw pharmaceutical care is an attitude so dimanapun km bekerja jiwa pharmaceutical care itu harus ada…….klo kmu sampe keceewa masuk farmasi..well mungkin mang dari awal kmu salah masuk jurusan….sy cuma mo bilang disini klo I`M PROUD BEING A PHARMACIST…

  12. Mia Says:

    To mba citra Fajar, saya lulusan farmasi sampai apoteker, di universitas yang katanya terbaik di Indonesia, juga alhamdulillah termasuk yg gampang dapet kerja di industri, walau saya ngga betah lama-lama… ngga bakat jadi karyawan nampaknya ^_^

    sebetulnya postingan saya tersebut gara2 di milis alumni saya membahas tentang uji kompetensi. Kalau mba Citra satu almamater dengan saya mungkin tau riuh rendahnya kami membahas uji kompetensi ^_^

    Pharmaceutical care is an attitude, saya setuju! Mudah2an mba pernah mengunjungi http://mediasehat.com, itu adalah perwujudan pharmaceutical care saya dan sahabat yg sama-sama apoteker, TIDAK DIBAYAR LHOOOO!!! alias GRETONG bow… kurang menjiwai apa coba hihihi…

    Sayang mba Citra gak mencantumkan blognya jadi gak bisa saya kunjungi balasan ^_^

  13. edgar Says:

    Halo. salam kenal
    saia msh belajar
    di farmasi

    kynya terlalu berlebihan juga mendiskripsikan farmasi spt apa.

    saia pernah menempuh pendidikan yang lebih menguras mental dan fisik drpd di farmasi, mencicipi pendidikan militer selama hampir 3 minggu.

    Emang masing-masing beda cara menghadapinya…
    tapi kesimpulan saya masih banyak pemdidikan lain yang lebih berat…..

    kalau masalah kerjaan…
    semua ada seleksi alam….

    enginieering juga harus berhadapan dengan otomatisasi dimana lahan pkerjaan sudah digantikan mesin dan mereka dituntutlebih pandai untuk bersaing.

    Kalau bicara soal gaji farmasis emang asal cukupmencukupi kehidupan sehari-hari aja.

    Kalau mau lebih gajinya jadi top managemen, kerja di perusahaan asing, atau berwira usaha membuka lapangan kerja

    Tetanggaku depan rumah lulusan SMF merintis karir dari bawah. akhirnya skrg jadi dirut CocaCola Bottling Indonesia

    Salah satu keluarga saia juga ada yang jadi dirut sebuah perusahaan farmasi disemarang juga awalnya berasal dari keluarga pas-pasan, bermodalkan ketekunan

    malah mereka ini yang memotivasi saya untuk masuk farmasis. dan akhirnya membuang jurusan Komputer di salah satu PTN favorit. karena keahlian di bidang IT bisa dipelajari secara otodidak..

    jadi ya…..
    semua itu kembali pada diri masing-masing…

    memang uang kadang-kadang bukan merupakan suatu ukuran kesuksesan

  14. Mia Says:

    Hai Edgar,

    betul sekali.

    saya sering dengar pernyataan : what’s good for me might not good for you, dan sebaliknya.

    Mudah2an farmasi adalah yang terbaik buat Edgar ^_^

  15. love_farmasis Says:

    hehehe…
    mang begitu ya farmasi
    saya anak farmasi juga
    baru aja selese kuliah
    sejauh ini enjoy-enjoy aja kok
    yg penting kita menikmati
    semuanya kan butuh proses
    di setiap proses itu pasti ada aja yang bikin saya tertarik
    yah…cinta mati dah ma farmasi

  16. ari Says:

    hi..

    nice article! saya juga farmasis dan TIDAK bergerak di bidang kefarmasian. saya setuju dengan semua point-nya, tapi saya tidak setuju dengan tujuan akhirnya : JANGAN MASUK FARMASI

    seharusnya dicetuskan gerakan : JANGAN BIARKAN FARMASI SEPERTI INI

    don’t leave something when it’s broken, fix it. there’s still hope.

    thnx

    btw. popunder/popup nya cukup menggangu tuh..

  17. Areep Says:

    salam kenal.. bagus juga tulisannya.. apa ini sebuah ungkapan dari hati…?

    saya setuju dengan komentar ari

    intinya, lulusan apapun kita kalau kita sendiri ndak benar2 pintar mencari celah ya sama saja ndak bakal bisa berkembang. untuk maju mulailah dengan berprinsip kalau bisa berbuat untuk orang banyak jangan untuk diri sendiri. jangan jadi orang gajian kalau mau maju, jadilah orang yang memberikan gaji kepada orang lain, ciptakan lapangan kerja.

    untuk masalah uji kompetensi sebenarnya itu cuma akal2-an isfi saja untuk mengumpulkan uang, sebenarnya ujian kopentensi itu dnak wajib kok, lha keputusannya aja g ada, cuma lampirann surat biasa. jadi kita g ikut juga ndak apa2 paling bermasalah dengan isfi (dipersulit) karena lumayan pendapatan dari 1 orang saja

  18. ari Says:

    waduh.. lupa lagi popups-nya yang mana tuh.. sama saya juga sudah diblok, jadi ngga muncul lagi.. :P

  19. Mia Says:

    Hai Areep ^_^

    hahaha benulll ini ungkapan hati, mumpung punya blog pribadi ya ngga Reep?

    Mengenai UJI KOMPETENSI sayangnya udah wajib Reep, bagi mereka yang akan menjadi APA atau penanggung jawab PBF. Lebih menyesakkan karena kawan saya yang sudah menghabiskan 3 tahun MBA di industri, tetap tidak bisa nge-dapetin SIK (krn sistem ini akan dihapus) kecuali ikutan UJI KOMPETENSI. Mendirikan apotek sekarang pun harus memiliki APA yang memegang sertifikat uji kompetensi. Jadi domino effect. Ini starting poin saya “ngamuk” di milis alumni (yang kemudian disana juga riuh rendah) dan kemudian sedikit sentilan saya tuangkan di blog ini.

    Suck, isnt it? Dah gitu ketua ISFInya almamater saya pula, ughhh… *memalukan*

    Btw bukankah bagus kalau tidak banyak yg masuk farmasi, jadi pasar karirnya ngga rebutan kaya sekarang? hehehe…

  20. luki Says:

    saya salut dengan pemikiran anda.

  21. ariel Says:

    Memang begitulah isfi, Saya juga tidak setuju dengan Ide kompetensi dari ISFI karena hanya untuk mencari uang dan jumlahnya fantastis lagi 1,2 juta untuk puka, yang lebih memprihatinkan yang mengisi puka orang-orang isfi & akademisi yang belum teruji kompetensinya, bagaimana bisa teruji wong mereka ke apotek saja jarang kadang merangkap sebagai PNS. jadi sampai sekarang saya belum ikut PUKA sampai menunggu ada dasarnya peraturan pemerintah yang jelas.

  22. Areep Says:

    lho sudah wajib to.. masalahnya, beberapa dosen dikampus saya yang juga mantan dekan farmsi USD sebenarnya ndak setuju sama uji kompetensi, ini dari hasil ngomrol2 gt. alasannya, lha kita kan udah lulus profesi masih juga disuruh gini-gitu. percuma dong.

    trus betul juga, sekarang untuk mencari lowongan kerja farmasis memang susah. butuh IPK sekian (yang pasti saya ndak bakal bisa) trus bla..bla..bla…

    ngincer PNS juga sekarang pake duit, ndak buka apotek kudu ngurus surat lolos butuh, dll.. intinya gimana kita bisa menciptakan lowongan kerja kalao yang mau menciptakan lowongan itu banyak yang malas karena administrasi yang berbelit.

    kita memang ada dinegara yang payah kok

    apalagi apoteker lulusannya sekarang ibarat babu dokter mana ada yang mau adu argumen. alasannya ya takut obatnya ndak laku. emang cuma satu dokter di daerah..

    saya juga tulis disini

  23. Mia Says:

    Pingin cerita…

    tadi sy telpon2an dgn sahabat yg ikut uji kompetensi minggu lalu, dan ada sesi dengan pak ketua.

    disana banyak yg menanyakan urgensinya uji tsb. salah satu jwbn yang diberikan adalah : “karena skrg banyak sekali univ swasta yg mengadakan pendidikan farmasi dan apoteker, dan walaupun ada standar kurikulum nasional namun tidak ada semacam standar kelulusan nasional, jd harus diadakan uji kompetensi”. Kasarnya, mereka yang bukan berasal dari top universities diragukan lulusannya, therefore harus ikutan uji kompetensi.

    Hohoho… PLEASEEEEEEEEE!!! Don’t u have any more ridiculous reasons, SIR???

    Akhir kata - setlah ngakak bersama sahabat - kami berdua sepakat mendoakan agar sang ketua lekas mendapat hidayah dari Allah SWT dan kembali ke jalan yang benar. Amien…

    It’s too suck.

  24. Mia Says:

    # luki
    thank you for dropping ur comment ^_^ Godbless!

    # ariel
    Riel, kisah nyata yg ariel ceritakan terjadi pada beberapa temenku hahahaha… kalah bersaing dengan para PNS yang gentayangan jadi APA, sewaktu ngurus ijin dibilagnya gak boleh klo APA ngga stay, ternyata oh ternyata si petugas itu yang ‘mengambil alih’ jadi APA hehehe… niat jd APA malah jadi APES

    # Areep
    yang tidak setuju emang banyak Reep, tapi herannya ISFI juga maju terus pantang mundur. Hebat semangatnya!
    Dunia FARMASI di Indonesia emang agak menyedihkan, seperti yg Ari bilang harusnya emang diganti “anjuran”nya. Fix it? OK, but I’ll leave it to others to do it hehehe… saya lebih suka jadi pengamat aja, mumpung saya lagi ngga berhubungan dengan dunia itu ^_^ *plus yah memaki satu dua kali lah…*

  25. Fajar Ramadhitya Says:

    *plus yah memaki satu dua kali lah…*

    Tapi rasanya Mbak Mia masih “sayang” sama dunia farmasi. Terbukti masih peduli mau ngomel-ngomel ngamuk. Kalau benar-benar sudah tidak sayang biasanya mah tidak peduli lagi mau seburuk apa kondisinya.

    Btw, seperti apa nih kontroversi uji kompetensi di sana, soalnya di kampus sy ga terlalu ‘panas’?

    Tentang dasar hukum uji kompetensi itu setau saya PP kefarmasian, tapi ini juga belum disahkan. Jadi seharusnya memang belum diwajibkan.

  26. Mia Says:

    yang saya tidak suka : birokrasi dan anything rotten behind that!

    Kalau tidak suka dengan dunianya, kan ngga mungkin Jar aku membuat http://mediasehat.com walau ngosngosan untuk isi artikel dan kadang bantu jawab konselingnya. almost lho, kadng2 biaya maintaining datang dari dompet masing2. Cuma memuaskan batin. Itu pelayanan.

    Dari cerita teman kemarin, sepertinya panas ngga panas yah, karena susah juga posisi mereka berdiskusi dengan pak ketua ISFI adalah saat hari terakhir uji kompetensi. Artinya, they’re already done it. Agak sia-sia juga mempertanyakan hehehe…

    Kalo dari ngobrol2 di milis Alumni, yang panas biasanya yang akhirnya memilih untuk tidak mengambil uji tersebut. Jadi yang ngambil uji ya emang org2 yang betul2 tabah, karena mau tidak mau mereka harus ikutan, otherwise posisi (atau dalam kasus kawan saya, hak atas SIK) terancam.

    Saya siy cuma berharap uji kompetensi bisa bikin kawan2 “balik modal”, dalam bentuk apapun terutama buat saya materi. 1,2 juta bukan uang yang sedikit, apalagi kalau harus dikeluarkan secara berkala, dan tanpa ada jaminan perbaikan apa-apa.

    Yang buat saya memaki2 selalu yang berhubungan dengan karir dan tetek bengeknya di farmasi. Bukan tentang ilmunya itu sendiri. Kadang orang sering salah mengerti, yang bikin saya jadi geli sendiri ^_^

  27. Sutaryono Says:

    Untuk parameter materi (upah, dll) saya memang sepakat dengan pendapat sejawat kita di atas, namun yang harus direformasi adalah petinggi-petingi ISFI dan regulator kompetensi itu, bukan institusi farmasinya. Jangan lupa bahwa lulusan sarjana sebenarnya dididik bukan untuk jadi pekerja/ buruh tapi menciptakan pekerjaan. Kita punya sejawat apoteker yang mampu menjadi ‘broker” tambang batubara dengan ilmu mixing farmasi dan sangat diandalkan untuk menetukan homogenitas campuran mixing dg BTU yg berbeda… jadi jangan patah arang dg profesi farmasi/ apoteker… yg benar reformasi petinggi ISFI dan regulator yg takut tersaingi dg para juniornya…
    salam buat sejawat semua… reformasi…? harus…..!

  28. Mia Says:

    # mas Sutaryono,

    i dont know you, but i think I like you hahaha…

    Saya rasa kita semua yang komen disini tujuannya sama2 pingin farmasi lebih ‘enak’, enak untuk farmasisnya, enak untuk masyarakat, dan mudah2an enak juga buat birokrat (tapi klo ini mah kayanya udah pasti enak ya?).

    Berbekal semangat itu ayo deh diskusinya diteruskan… seru!!!

    ps : di atas2 itu ada farmasi yang menyamar jadi programmer IT lho hahaha… ayo coba dicari ^_^

  29. Gak Bakat jadi Birokrat! | Hello, it's Miw Speaking... Says:

    […] Comments Mia on Gerakan : JANGAN MASUK FARMASI!!!Sutaryono on Gerakan : JANGAN MASUK FARMASI!!!Mia on Gerakan : JANGAN MASUK FARMASI!!!Fajar […]

  30. Areep Says:

    lho sudah wajib to.. masalahnya, beberapa dosen dikampus saya yang juga mantan dekan farmsi USD sebenarnya ndak setuju sama uji kompetensi, ini dari hasil ngomrol2 gt. alasannya, lha kita kan udah lulus profesi masih juga disuruh gini-gitu. percuma dong.

    trus betul juga, sekarang untuk mencari lowongan kerja farmasis memang susah. butuh IPK sekian (yang pasti saya ndak bakal bisa) trus bla..bla..bla…

    ngincer PNS juga sekarang pake duit, ndak buka apotek kudu ngurus surat lolos butuh, dll.. intinya gimana kita bisa menciptakan lowongan kerja kalao yang mau menciptakan lowongan itu banyak yang malas karena administrasi yang berbelit.

    kita memang ada dinegara yang payah kok

    apalagi apoteker lulusannya sekarang ibarat babu dokter mana ada yang mau adu argumen. alasannya ya takut obatnya ndak laku. emang cuma satu dokter di daerah..

    Semua hal masalah keprofesian aya juga stulis disini

  31. Areep Says:

    yah emang itulah yang terjadi.. apa mau dikata ya… intinya, kita lulus juga belom dianggap dong, mau pake test lagi segala….

    ops sory terkirim yang beda komentarnya…

    soale tadi sempat error hehehe

  32. Murtad dari FARMASI Says:

    Saya termasuk Apoteker yang murtad dari Farmasi.

    Harus diakui sistem kesehatan di Indonesia tidak berpihak pada masa depan Apoteker (baca : BANCI !).

    Lihat saja ketidak-tegasan terhadap dokter dispensing. Jadi saya pribadi juga berpendapat : Saya Ingin Kaya ? Jangan jadi Apoteker !

    Dan itu sudah saya lakukan dan Alhamdulillah setiap saya menggunakan waktu saya sekitar 8 jam saya bisa dapat 5 juta. Bandingkan dengan kerja sampingan saya sebagai apoteker di apotik yang sebulannya dibayar 2,5 juta.

    Jadi ! Ubah yang bisa Anda Ubah minimal yang berada dalam zona kendali Anda !

  33. Buka Bukaan Says:

    Hayo ….. coba saja buka bukaan gaji apoteker (identitas boleh dirahasiakan).

  34. Murtad dari FARMASI Says:

    Lho ….. tulisan saya kok di sensor ?

  35. Mia Says:

    hai murtad dan buka-bukaan (satu org yg sama kan?)

    bukan sensor tapi ada filter utk first commentor.

    katanya mau buka-bukaan, tapi kok id-nya gak mau ungkap, bahkan emailnya pun gak jelas ^_^

    tapi jangan promo yaa… kalo promo saya akan sensor beneran ^_^

  36. ariel Says:

    Saya termasuk orang yang sangat mencintai farmasi dan Apoteker karena saya hidup dan menjadi sukses karena menjadi Apoteker, isu kompetensi sebenarnya sedikit dipaksakan, dahulu isu utama adalah No Farmasis No service saat konggres ISFI 2005 namun semenjak pergantian pak ketua Umum ISFI pusat berganti ke istilah TATAP (tiada Apoteker Tiada pelayanan) amanat konggres ISFI 2005 adalah pelaksanaan NPNS/TATAP. diperjalanan ISFI pusat punya program dengan istilah Pemurnian Profesi Apoteker dengan diselenggarakannya puka, sebenarnya puka masih belum menyentuh substansi permasalahan yang ada “kebobrokan dunia farmasi komunitas” kenapa kami sebut begitu karena hanya 10-20 % apoteker yang aktif di farmasi komunitas selebihnya 80% apoteker yang berada di farmasi komunitas hanyalah seorang yang melakukan pekerjaan sambilan artinya mereka hanya menjadi penanggung jawab apotek secara administratif namun kenyataannya apotek dikelola oleh seorang PSA/Pemilik Apotek dan apoteker jarang diapotek mereka rela digaji dengan gaji dibawah standar ini yang memalukan dan ini yang perlu ditertibkan oleh ISFI. kalau ini berlangsung secara terus menerus dunia profesi apoteker akan mengalami kehancuran sebagaimana krisis ekonomi yang menghancurkan Amerika sekarang. seharusnya permasalahan ini yang harus diprioritaskan ISFI untuk diangkat. PUKA belum mempunyai dasar hukum yang jelas.
    Perlu saya jelaskan Dasar hukum yang bisa diterima adalah 1. Undang-undang (contoh UU kedokteran) 2. PP (Peraturan Pemerintah) 3. Permenkes.

    Kita/dunia farmasi dan komunitas apoteker belum mempunyai ketiga dasar hukum seperti diatas yang mengikat ada permenkes tentang standart pelayanan kefarmasian diapotek masih dianggap belum cukup untuk menjerat apoteker yang tidak melaksanakan kewajibannya diapotek. ISFI dengan Menjual Puka dan menakut-nakuti anggotanya bagi yang ikut 2008 dijamin lulus tetapi bagi yang tidak ikut puka nanti tahun 2009 akan ujian sebenarnya. dan ini sangat manjur bagi apoteker yang benar-benar takut dengan isu tersebut. isu tersebut sangat membahayakan bagi dunia profesi apoteker karena isu tersebut terkesan menjual sertifikat. apoteker yang tidak pernah diapotek akan otomatis ikut PUKA karena pasti lulus tetapi apakah mereka mempunyai kompetensi? Sertifikat yang dijual inilah yang sangat membahayakan karena rawan disalah gunakan kalau ini diteruskan kepercayaan terhadap profesi apoteker akan hilang. disamping itu dasar yang dipunyai isfi dalam PUKA hanyalah kesepakatan ISFI dengan APTFI. ini masih belum cukup dan terbukti Depkes masih belum mengakui uji kompetensi dan sertifikasi versi ISFI sebagai contoh. saat pendaftaran PNS di Depkes/pemerintahan untuk dr,drg sudah diberlakukan syarat STR yang harus dilampirkan namun untuk Apoteker tidak perlu memakai syarat STR karena memang belum ada dasar UU yang mengaturnya.

    Jadi saran saya kita tunggu saja dasar hukumnya biar jelas permasalahannya …
    Kalau mau mendirikan apotek dimintai syarat puka ini mengada-ada … tidak ada di form AP-1 anda bisa menggugat / dan saya yakin anda pasti menang …
    dan jangan kuatir masih banyak praktisi apoteker yang idealis dan berpihak pada profesi dan teman sejawatnya …

    kalau sudah begini mana yang perlu diubah … ?

  37. luki Says:

    Betul Ariel, aku juga belum ikut PUKA, saya yakin sertifikat seperti itu tidak akan diakui bagaimana tidak dapatnya saja … instan … diakuinya ya juga instan … apa ingin sertifikatnya disamakan dengan punya perguruan tinggi UTS yang terlibat kasus penjualan ijasah instan … tetapi kalau Uji kompetensi benar pakai ujian ini yang berlaku … dan nanti puka sebelum tahun 2008 dianggap tidak berlaku … kemarin waktu temenku ikut puka di Ubaya-surabaya (biaya 1 Juta) sangat membosankan dan menjemukan, tidak variatif, tidak komunikatif dan seperti kuliah saja… yang mengisi ya itu-itu saja juga tidak jelas kompetensinya … temanku kecewa ikut puka …

  38. Mia Says:

    # Ariel & Luki,

    berita yg saya denger dari teman sy yang ikutan PUKA kemarin, plus dari teman lain yang ibu mertuanya ikutan PUKA, katanya kalau tahun 2009 nanti ujiannya pake praktikum segala.

    Jadi itu kayanya yg bikin ‘nakut-nakutin’ sehingga banyak yg berbondong2 ikutan PUKA. Di bandung sekitar 180orang yg ikut, kawan sy yg di jkt juga sepertinya di atas 100 org.

    Balik lagi jadi penasaran… trus kuliah buat apa hahaha

    Di blog pak ketua ISFI cuma komentar ttg komen saya terhadap PUKA “Uji kompetensi itu kan lazim untuk profesi”. Hehehe, cuma kaena lazim? Ikut2an dong yaaa!!!

  39. luki Says:

    Isfi termasuk yang getol dengan puka karena disana banyak uangnya, tapi untuk menertibkan apotek ISFI belum melakukan apa-apa karena mereka juga seperti itu … Jadi aku lebih setuju dibuat organisasi tandingan apa perlu dibuat “Ikatan Apoteker Indonesia” setuju …

  40. Doni Says:

    Saya lebih setuju dengan istilah “Gerakan Jangan ikut PUKA” dan jangan takut tidak ikut PUKA …
    selama belum ada dasar hukumnya…

  41. Mia Says:

    hai guys… ada artikel baru ttg PUKA yang saya tulis disini http://miacantik.com/?p=81 Mohon tanggapannya yaa ^_^

  42. lutfi Says:

    Ngak sengaja buka e-mail di milis,’tadinya hanya mau lihat laporan acara Futsal’ ternyata ada e-mail yang membawa saya berkunjugn ke sini :p

    Sampai sekarang saya belum ikutan PUKA karena belum niat dan belum ada paksaan. :P (baca :belum dibayarin kantor)

    Kalau menurut saya soal “Masuk FARMASI” itu tergantung minat dan itu hak masing-masing untuk memilih, namun yang penting bagaimana ketika memilih kita harus sudah tau segala hal positif dan negatifnya.

    Pengalaman saya tidak sedikit juga kok orang yang sukses karena dia seorang Farmasis….Jadi ngak bisa digeneralisasi seperti itu.

    Kalau sukses tidak nya seseorang itu tergantung kemauan dan usaha.

    Salam hangat,

    -terpropokasi untuk komentar karena baca judul tulisannya :) -

  43. ovie Says:

    Sangat miris sekali membaca tulisan seperti ini, sangat emosional dan tak berdasar.

    Saya seorang farmasis dan sejauh ini saya tidak pernah menyesali menjadi seorang farmasis bahkan saya merasa sangat beurntung bisa menjadi seorang farmasis.

    Menanggapi “kuliah yg susah” saya rasa itu relatif hanya tergantung dari kemapuan dan kecocokan dari masing-masing orang. Dan juga menanggapi pernyataan bahwa “jadi farmasis susah mencari pekerjaan atau ngga bisa sukses” ini juga sama sekali tidak benar let see, beberapa pemimpin perusahaan Farmasi nasional dan multinasional juga dipimpin oleh seorang Farmasis kan….

    Ketika lulus apoteker sy langsung mendapatkan pekerjaan di salah satu perusahaan farmasi terkemuka di indonesia dengan penghasilan yg cukup besar (untuk ukuran fresh graduate jika dibandingkan dengan lulusan dari jurusan lain). setelah 1 tahun bekerja, saya langsung mendapatkan posisi strategis sebagai Manager di Multinational company dengan kompensasi dan fasilitas yg sgt bagus dan kesempatan bekerja overseas (hanya contoh kasus saja, tidak bermaksud yg lain). Jadi pernyataan yg anda sampaikan itu sangat tidak benar. Banyak rekan2 saya lebih sukses lagi sebagai seorang farmasis.

    Jadi, sekali lagi kalau memang merasa ngga cocok di farmasi, jangan dipaksakan, jadinya malah frustasi dan bikin tulisan yg provokatif seperti ini.

    maaf kalau menyinggung, tetapi ini real, krn pada kenyataannya ngga seperti yg dituliskan disini kok, tolong jangan berfikiran sempit dan melihat dari satu sudut pandang saja.

    Untuk rekan2 farmasis yg lain “keep up the work guys, we have to be proud of being a pharmacist”

    Thanks

  44. Mia Says:

    Dear Ovie,

    diskusi kita di thread ini sebetulnya udah bergeser hehehe… karena akar permasalahan yang saya tekankan sebtulnya adalah masalah sertifikasi kompetensi (followup posting saya di milis alumni), silakan sambil dibaca2 tanggapan teman2 dan saya juga ya di blog tersebut biar lebih catch up dengan diskusinya ^_^

    masalah frustasi dengan farmasi, saya sih ngga ngerasa gitu walopun saat ini saya tidak lagi mencari makan dari bidang itu hehehe… lagipula kalau saya frustasi, ngga mungkin dong saya bikin http://mediasehat.com 4 tahun lebih dengan dana pribadi ^_^ Ovie sudah kunjungi website tersebut? Mohon input yaaa…

    Yang saya sesalkan lebih karena birokrasi yang tidak berpihak pada profesi. Ovie dan teman2 beruntung bisa dengan jabatan (dan gaji) yang Ovie maksudkan, tapi jauh lebih banyak apoteker yang tidak seberuntung itu, digaji setara dengan lulusan SMA atau D3, terutama mereka yang mengabdikan diri secara penuh di apotek.

    Mudah2an “ajakan” saya bisa mengurangi pasar baru Apoteker yang semakin jenuh… apabila suppy berkurang dan demand bertambah, bukankah bisa diterapkan hukum ekonomi? “Harga jual” farmasis insya Allah jadi naik dan tidak ada lagi apoteker yang underpaid, amieeennn…

    hayo monggo diteruskan diskusinya di blog yuk ^_^ I appreciate any words from you.

  45. putri.. Says:

    wah.. mba mia, sy juga ambil jurusan farmasi di universitas terbaik bangsa (katanya.. hehe).. klo blh tw mba mia almamaternya dmn?
    skrg udah tingkat 4..tp msh blm mencintai farmasi..gmn yak??
    aku ngerasa kyknya ini bkn lentera jiwaku..hehe…nilaiku jg kacau..
    hmmmfff….

  46. Mia Says:

    Denger2 almamater saya juga ngakunya universitas terbaik di Indonesia Put… itu lho yang pake cap gajah duduk.

    Jangan2 kamu junior saya nih…

    mengenai nilai kacau, jangan kuatir put. Saya percaya tiap orang pasti punya potensi lain diluar akademik. Kuliahmu anggap aja tambah ilmu, jangan utk cari angka ijazah. Lebih lanjut, klo bete buru2 lulus yah biar gak kelamaan hehehe

  47. putri.. Says:

    Teh Mia.. salam kenal ya :)
    iya nih almamater kita sama. klo blh tw Teh Mia angkatan brp?

    nah tuh dia teh.. klo nilai sy kacau gmn sy bs cr kerja?
    skrg ini sy berusaha n harus mencintai farmasi dan mengejar nilai.. meskipun udah agak telat (tingkat 4 gn..)

    tp kadang terlintas pikiran pgn kerja yg menyimpang dr dunia kefarmasian.. tp msh ga tau apa.hehe.

  48. Mia Says:

    hahaha… pertama : nilai saya jg kacau banget (IPK dibawah syarat umum ngelamar kerja!) tapi alhamdulillah waktu ngelamar ke industri farmasi ada yang manggil utk interview, dan saya jg kerja pertama kali di industri (emang gak ngelamar tempat lain selain industri dan cuma R&D soalnya formulasi adalah bidang farmasi yang paling saya suka).

    Jadi kalo kata saya mah : pede aja. Jangan nilai yang ditingkatkan, tapi kualitas pengetahuan kita tentang ilmunya. Insya Allah para user bisa kok membedakan, mana yang cuma sekadar nilai diatas ijazah, dan mana yang emang ‘menguasai’ beneran. Ningkatin kualitas pengetahuan insya Allah efeknya lebih jangka panjang daripada cuma sekadar kejar nilai ijazah :D

    Pingin kerja ‘menyimpang’? Banyak banget sekarang Put yang melakukan itu. Paling gampang kamu jalanin yang sesuai dengan minat kamu aja. Kamu suka ngomong, mungkin bisa jadi penyiar radio. Ato suka bisnis, suka marketing, suka desain, dll. Soalnya, kalo kita udah ngejalanin sesuatu yg kita cintai, insya Allah mao jungkir balik kaya apa jg kita mah istiqomah aja, gitchu ^^

    contohnya saya niy : industri tidak memberikan kepuasan apa2 hahaha, jaminan sekian taun akan jadi manager bukan janji surga buat saya. Pindah kerja ke proyek pemerintah yang takehome money-nya jauh lebih besar dari waktu gawe di industri pun, gak bikin saya happy.

    Ternyata saya pribadi emang gak bakat jadi karyawan, ’solo karir’ gini lebih enak, walo duit belum banyak, tapi kebebasan gak terbajak hehehe…

    yaaaaaahhh jadi kultum lagi deh ^_^

  49. Riswara Says:

    Halo Mia,
    Saya juga apoteker, ada beberapa pendapat Mia yang benar, yaiut bahwa kuliah di Farmasi itu sangat melelahkan dan tidak sebanding dengan apa yang nanti nya di peroleh..eit..nanti dulu ‘ tidak sebanding atau sebanding ‘ itu tergantung nasib cuyyyyy…
    Ada yg saat kuliah di mana pun bego nya setengah mati, tp kerjaan enak, tp ada yang kuliah di farmasi ‘ bermandikan darah ‘ eh..’ ngga jadi apa2 ‘…
    Kalo mau jujur, memang pilihan kuliah kedokteran memang lebih oke di bandingkan menjadi apoteker..serius !! Kecuali nanti di Indonesia fungsi apoteker terutama di apotik bisa di kembalikan pada kodrat nya / program TATAP..so..gaji apoteker bisa ke dongrak dikit lah..lah lumayan dari pada sekarng yg bahkan ada yang msh di bwh UMR.
    Buat Mia, krn kita sudah terlanjur di farmasi, ya teruskan saja hidup ini, tp nanti anak2 kita harus di pertimbangkan matang2..oke..

  50. Mia Says:

    Setujuuuu!!!

    Makanya saya lagi meneruskan hidup niy Ris di bidang lain :D

    btw kok alamat blog-mu gak bisa dibuka yaa? mau kunjungan balik niy, saling ngakrabken diri sesama apoteker. Monggoo…

  51. shinta Says:

    hiihihi

    u know what!! dulu juga mau masuk farmasi, trus iseng daftar di univ swasta ngajak temen. trus begitu keterima ga diambil eh malah temen aku yang masuk. huehehe berarti aku ngejerumusin dia yah ;(

    gpp sih sekarang dia dah masuk cpns, hehehe terbayar deh rasa bersalah….

  52. mutiara Says:

    haloo ka miaa!! blognya seru deh.. makasih yaa atas tulisantulisannya..
    saya udah mau lulus SMA nih ka dan alhamdulillah udah dapet kuliah jurusan farmasi di universitas kuning kuning itu. ka mia lulusan universitas cap gajah duduk yaa?? sebenernya jurusan farmasi paling bagus itu di ui, itb, atau ugm ka? atau sama aja, universitas ngga ngaruh banyak, yang penting kitanyaaa?

    insyaallah mantep ngambil farmasi udah 70%… lapangan kerja buat farmasi banyak kan ka? saya degdegan nii sebenernya ngga kuat hapalan bangeett…! lebih seneng ngitung.. :)

  53. Mia Says:

    hai Mutiara… semoga dirimuw masih buka2 websiteku yaa coz aku gak bisa comment di blog friendster :D

    Kalo ngomongin bagus yg mana, sebtulnya bener kata Mutiara, balik ke kitanya lagi. Tapi emang dari ketiga universitas ini, ada semacam ’spesialisasi’nya gitu Muti.

    Misalnya, ITB lebih fokus ke bidang tekno, jadi ke arah formulasi dan produksi, lebih kental.

    UI mungkin lebih ke farmasi klinis ya… bidang rumah sakit, dll

    UGM, farmasi pelayanan mungkin? RS, atau ilmu obat2an bahan alam?

    Yg pasti biasanya siy memang ada selling point yg berbeda dari tiap2 univ.

    Kalo lapangan kerja buwat farmasi, tahun ini mungkin bakal beda sama tahun dimana nanti Muti lulus yaa… kan masih 5 tahunan lagi Mut ^^

    Yg pasti klo saat ini, dibilang jenuh juga ngga siy… tapi klo buat itung2an income/gaji, memang relatif kurang dibandingkan dengan jurusan teknik dsb.

    But balik lagi deh Muti… kata orang2, klo dijalanin pake hati, gaji rendah jg gapapa deh hehehe… yg pasti kalo aku siy, aku mending cari yg incomenya tinggi dulu, kan tetep butuh rumah & mobil, ya gak Mut ^^

    Goodluck buat Muti yg mau ngadepin UN, try your best, and let GOD do the rest yaa!!

  54. mutiara Says:

    iya ka. sebenernya pengen sihh farmasi. pengen nyiptain obat kanker! hhe
    tapi setelah saya browsing browsing internet ko katanya dunia farmasi Indonesia ni kurang dihargai gitu yaa… kan saya juga pengennya yang income gede juga ka. :)
    jadi pas baca baca prospek kerja, gaji standar profesi, dll gitu ko kayanya lebih menarik kuliah di bidang IT, perminyakan, atau manajemen gitu ya. hhe

    masih belom mantep 100% nih ka.
    bantu mantepin hati saya doong…

    oya ka, kalu hapalan ngga terlalu kuat tapi lamalama bisa juga kaan?? hhe

  55. Mia Says:

    cantiiikkkk….

    aduh cantik jgn minta diriku utk memantapkanmu hehehe…

    tapi gini deh cantik, gimana gimana juga emang klo masalah bidang ilmu farmasi tetep jadi bidang ilmu yang paling menarik buwat aku.

    kalo masalah cari duid… nah ini ntar urusan lain lagi ya cantik…

    so klo emang jiwamu emang ke bidang ini, apalagi punya niat tulus utk cari obat kanker, aku DUKUNG 100% lho… Kalo emang udah dijiwai, halangan apapun harusnya gak jadi masalah, terutama cuma masalah ngapal2in *toh aku jg gak kuat ngapalin hehehe*

    Masalah nanti rejeki dan cari duit klo udah lulus, itu mah bisa diaturrr… soalnya kita manusia tidak pernah betul2 ada di posisi yg “tidak bisa memilih”, bener gak?

    Ya ud Muti yg imut2 met belajar yaa… klo UN-nya lulus, kabar2in ke blogku yaa ^^

  56. indah Says:

    hhai ka mia..
    waduuh pas baca blognya nii,,ak rada2 takut juga jadinya..
    ak udah keterima di univ terbaik di indonesia jur.farmasinya,,
    tapi aku belum dpet restu dari ortu spenuhnya buat disana masih nunggu FK di daerahku..

    berat bnget ya kak kul di farmasi?
    yang ak tau lapangan kerjanya luas kak..
    aku emang suka kimia dari sma..
    tapi ak gak suka ngapal,,
    kira2 ak bisa gk jlaninnya y?

    thx y kak..

  57. tukangobatbersahaja Says:

    Sebagai alumni saya paham banget tulisan ini :)

    Bukan birokrasi yang membelit kita tapi justru dengan ilmu kita ini bisa disampaikan dengan kepada orang lain yang membutuhkan.

    saatnya farmasi bicara lewat media :)

  58. Mia Says:

    @ Indah,
    klo dah kecemplung, kepaksa menghadapi mata kuliah yg demikian dan ujian-ujiannya, mo gak mau emang kita gak boleh lari dari kewajiban ‘menghapal’ mati.

    tapi lebih enak lagi, sebetulnya klo kita bisa mengerti. Menghapal mati cuma konsumsi UTS/UAS, berlaku hanya saat itu aj, jd jgn terlalu terbebani.

    Di waktu senggang, tetep baca2 lagi ilmunya, bukan utk menghapal di ujian, tp supaya kita jd ngerti apa sbtulnya yg kita pelajari. Yg ini gunanya utk konsumsi publik, konsumsi umat, kalo ntar kita dah terjun ke dunia nyata (baca : udah lulus!)

    Semangat ya Indah ^^

  59. Putro Says:

    wah2, kata2 “Jangan masuk Farmasi” kurang enak didengar.. hehe..
    mbk, mau tanya, lulusan farmasi ui itu prospek kedepannya gmn ya? saya jadi makin bingung gara2 ada kata2 itu tadi.. huhuhuhu :(
    arrghhhh

  60. bash Says:

    hallo… Nice to know this site

    Saya bru aja dpt jurusan farmasi dri univ yg ktanya trmasuk top3. Rada khawatir nih stelah ngliat topiknya.
    Sbagai pemula yg bahkan masi buta tntang isi farmasi, saya blum tau prospek mendalam n jalur2 profesi turunan farmasi. Yg trlihat suram dan banyak hal2 menyebalkan itu cuma berlaku untuk jalur apoteker kah ? Atau smua jalur farmasi ?

    Oh, please komenin pernyataan ini:
    Pengen kerja dprusahaan bagian bidang farmasi (industri) dengan gaji paling tidak d atas 5 jt. N kalo bisa bkerja d luar negri
    Mungkinkah itu ?

    Keadaan rada rada terjepit sih, maunya tknik kimia, tpi dpt farmasi (harus bersyukur atau kecewa ?).
    Saya dpt rada d awal n masi ada kesempatan ikut tes univ lain, tpi kbijakan univ pertama g memungkinkan ikut snmptn. Jdi.. Can I get some good-to-hear advice about my position ?

  61. shinta Says:

    aslm mbk mia, salam kenal. aku shinta skrg kls 3 sma pengennya masuk farmasi tp kurang tahu informasi ttg farmasi kasih tau dong? mbk sinta plg dak suka makan obat, sakit, dan disuntik. itukan bertentangan bngt ama farmasi. jd kira2 sinta bisa dak ya… ngejalani kuliah farmasi?

  62. Aditya Says:

    Asmkm.Saya seorang mahasiswa di jurusan farmasi di salah satu PTN di kota Depok.
    Awalnya saya maunya kuliah di Perminyakan di Bandung,karena fresh graduate nya lebih besar dibanding jurusan lain,tapi karena suatu keadaan,saya jadinya berkuliah di Farmasi,jauh sekali dengan harapan saya pada awalnya.Dan karena saya kuliah di jurusan yang saya tidak minati,saya menjadi tidak bersemangat & nilai saya terus menerus menurun,terlebih setahu saya,kuliah di Farmasi fresh graduate nya tidak besar,tidak seperti di Perminyakan.
    Setelah setahun,saya merasa tidak enak & saya ingin pindah jurusan ke pilihan awal saya,tapi orang tua saya sudah menghabiskan banyak biaya & lebih menginginkan saya kuliah di Farmasi,ketimbang yang lain.
    Nah,saya bingung,walaupun penghasilan seorang farmasis tidak akan sanggup menyaingi penghasilan seorang teknisi Perminyakan,setidaknya apakah ada peluang seorang farmasi untuk mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan bersih > 5 juta.kalaupun ada,posisinya sebagai apa & peminatannya itu di Industri atau di pelayanan..?
    Apakah penghasilan bersih seorang farmasis di Industri Farmasi dapat mencapai > 5 juta..?

  63. Mia Says:

    wa alaikum salam, bash, shinta dan aditya…

    pertanyaan Bash & Adit mirip yaa…

    masalah 5jt/bln, itu bisa aja, tapi pake kurs kapan hehehe… maksudnya, saat nanti Adit & Bash lulus farmasi atopun apoteker, tentunya 5jt/bln saat itu tidak akan sama nilainya dgn 5jt pada tahun ini, betul gak?

    Contohnya, teman seprofesi saya yg dulu sama kerja di industri yg sama, saat ini gajinya mencapai 7jt/bln (makan siang ditanggung pabrik dan ada fasilitas jemputan wlau tidak ke rumah tp ke dropping point). Tapi posisi ini didapat setelah hampir 7 tahun bekerja di tempat tersebut. waktu kami masuk tahun 2003 di pabrik tersebut, kisaran gaji saat itu sekitar Rp. 1,7jt utk fresh graduate posisi supervisor pabrik (R&D, QC, Produksi). Ini standar mengacu pada standar gaji industri farmasi di Jakarta, artinya di kota lain banyak yg gajinya dibawah itu.

    Kalau utk kerja di luar negeri, kenapa tidak? saat ini ada beberapa teman satu almamater saya yg bekerja di Malaysia, di industri farmasi kalau tidak salah. Semua kemungkinan terbuka luas sebetulnya, tetapi harus diingat tentunya semuanya butuh kompetensi dari kita juga. Artinya kalau misalnya dari segi ilmu atau nilai (saat ini segala sesuatu masih dinilai berdasarkan ijazah kan?) tidak kompeten dan tidak mampu bersaing dgn lulusan negara lain, ya percuma juga… Jadi pada akhirnya sih kembali ke niat masing-masing, kalau pingin jadi top level di bidang ini, tentunya pengetahuan dan kemampuannya jg harus ada di top level yaa.

    Mengenai farmasi industri atau pelayanan, mana gaji yg lebih besar? Berdasarkan pantauan dari teman-teman dan pengalaman saya sendiri (saya mantan pekerja industri di salahsatu PMDN), sampai saat ini gaji industri masih lebih besar dari farmasi pelayanan (apotek, RS).

    Kalau saya boleh usul, apabila pilihan farmasi ini memang sesuai dgn nurani teman-teman, jalani sebaik-baiknya dgn dasar pemikiran bahwa saat nanti bekerja, teman-teman tidak hanya terpaku pada faktor materi-nya saja misalnya… tapi bahwa teman-teman telah melakukan pelayanan sesuai dgn ilmu yg diterapkan.

    kalau masalah materi, memang tidak ada ujungnya ya :p Saya pun meninggalkan dunia farmasi salahsatu pertimbangannya karena menurut saya saat itu bahkan sampai sekarang, masih tidak sesuai antara apa yg sudah saya keluarkan dgn apa yg saya dapatkan. Tapi balik lagi ini kan tergantung sudut pandang masing-masing kita dalam menyikapi satu ’subjek’. Usul saya, mulai gali potensi kewirausahaan dari bidang yg udah Anda pelajari, misalnya di farmasi kan ngga melulu belajar tentang bikin obat kimia, tidak melulu harus punya apotek kalau menyangkut ‘bisnis’. hampir setiap bidang ilmu selalu ada sisi yang bisa dikomersialkan tanpa harus mengabaikan sisi manfaatnya juga. Jadi saat nanti kita lulus, kita tidak terpaku pada pola pikir “harus mencari kerja”, krn makin besar persaingan, tentunya makin susah kita mendapatkan pekerjaan, dan makin kecil pula standar gaji yg akan diterapkan (prinsip ekonomi : suplai meningkat, harga turun)

    Mudah2an nasehat panjang ini bisa berguna buat adik2 yg saat ini masih kuliah atau bahkan baru masuk farmasi yaa… yg pasti saya tetap tidak akan menyarankan sodara/sepupu/atau anak saya nanti utk masuk farmasi :-)

  64. Grace Says:

    Hmmm…begitu membaca tulisan Anda, saya merasa sangat familiar dengan keadaan tersebut..
    Setelah membaca komen-komen, ternyata kita dari tempat yang sama :D

    Sejak tingkat 2, teman-teman sudah kasak-kusuk dengan bilang, “Salah jurusan nih…”

    Saya itu lebih suka matematika, fisika, kimia. Pelajaran itung2an lah gitu. Begitu di farmasi memang kadang tertekan dengan beban kuliah yang isinya adalah hafalan semua.

    Tapi, setelah dijalani 4 tahun itu..saya seneng-seneng aja..

    Saat paling berkesan itu saat bisa mengajar junior-junior (saat praktikum). Rasanya tuh…ga percuma udah belajar materi kuliah yang dulu-dulu itu.

    Apalagi Jurusan kita tercinta ini dipuji-puji waktu wisuda 1 thn lalu. Karena, 90 % mahasiswanya lulus tepat waktu..
    Bangga aja tuh jadinya..hehehe.

  65. Mia Says:

    Good, berarti Grace emg cocok disitu ;-)

    Kalo ilmunya aku jg cocok kok Grace, yg ngga cocok itu : GAJINYA hehehe…

    welcome to the real world ^^

  66. mutiara Says:

    ka miaaa! apakabar? aku udah lulus UN nih. hehehe jadi juga udah resmi jadi maba farmasi 2009. bismillah…^^
    deg”an euy besok mulai kuliah tapi masih bareng ospek juga >.

  67. Mia Says:

    hai Muti…. waaahhh selamat yaaa ^^ terharu niy beneran dikasih update sama Muti ^^

    stick to your dreams ya Mut….

  68. riki frendy Says:

    g kya gtu kali farmasi….
    saya anak farmasi have fun aj…
    untuk kedepannya seorang farmasis akan dikuatkan lagi kedudukannya oleh pak presiden…
    Pekerjaan farmasi itu paling dcari oleh setiap lembaga baik RS maupun pabrik obat yang embutuhhkan..
    jangan samakan farmasi dengan pekerjaan yang lain…
    belum tentu farmasi seperti yang anda bayangkan..
    Terima Kasih…

  69. Mia Says:

    hai Riki…

    lhaaaa kamu pikir saya bukan lulusan farmasi dan belum pernah kerja di bidang farmasi hehehe…

    kamu anak farmasi, maksudnya masih kuliah yaa? ya ya selesaikan dulu kuliahmu ya nak, dunia ‘luar’ tidak seindah kampus, itu nanti akan Riki alami sendiri.

    Good luck Riki ;-)

  70. mutiara victora Says:

    haha…. nice article…
    aq AA yang udah banting setir…
    lulus SMF, kerja bentar di R.S. sambil blajar bwt SPMB…

    jujur ya, dlu itu gajinya SAMA SEKALI TIDAK SEBANDING dg biaya pendidikan yg udah dikeluarin…

    pas lulus SPMB, diterimanya di Sastra (pilihan ke-2 setelah farmasi)aq milih SPMB drpd masuk farmasi di PTS yg dlu j biaya kulnya ampe bbrp belas juta *gtw deh skarang, soalnya aq dah lulus kul skr*

    yang aq kangenin dr farmasi cuma 1…. praktikum…
    titrasi…perkolasi…water bat… ichtyol yg bau…bikin effervescent…salep..
    haha… masih inget tnyata aq…

  71. Aditya Says:

    Asmkm.ka’ Mia…
    boleh tanya lagi,ngk…^_^

    habis baca komentarnya ka’ Mia,memang ada standar IPK untuk melamar kerja ya ?
    memang berapa standarnya ?
    msh 2,75,atw naik ?

    kan katanya juga kalo lulus lebih dari 4 tahun,kan jadi AIB tuh…
    tapi nantinya waktu kerja,dipertimbangkan ngk lama waktu studi nya ?
    memang waktu melamar kerja,apa aja yang jadi syarat ngelamarnya ? IPK,lama waktu studi gitu…
    Sekarang c sy msh menjalani kuliah di Farmasi tingkat 2,sy msh bingung juga neh,IPK sy c masih angka 3,tapi IP udah di bawah itu,coz ada beberapa mata kuliah yang ngulang…,meyedihkan juga c ka’…,yang mungkin aja,lulusnya lebih dari empat tahun,kalo kaya’ gitu kesempatan nya kerjanya sama kaya’ yang lulus 4 tahun atw beda jauh,ka’ ?
    sy c ada juga yang nilainya pas2an,mending diulang atw ngk usah aja ya,ka’(walau masa studi jadi lebih dari 4 tahun) ?
    coz sy msh berpegang prinsip kalo IPK nya bagus,kaya’ diatas 3,…pasti mudah dapat kerjanya..
    kalo dibanding jurusan yang lain,memang benar ya ka’,kalo Farmasi itu lapangan kerjanya luas ? bisa dpt kerja yang lahannya buat anak Tek.Pangan juga ?
    masih bingung juga neh,ka’ antara mw tetap di farmasi atw pindah ke Engineer,habis dapet nilai nya susah c,nanti dapet incomenya susah pula…

  72. mona anna Says:

    Astaga. Ini tulisannya mona bgt!
    Ak kuliah farmasi
    Baru semester 3 sih.
    Humm.. Susah bgt.
    Bener bgt. Ngafal”in hal” yg @@ jelimet!
    Bener” menyuarakan isi hati ak

    Mgkn bbrp org yg ud sukses sewot
    Triak” farmasi is good
    But for me.
    Farmasi is nightmare
    Tiap hari?
    Praktek, kuliah, bikin laporan
    Klo ga bgt. Y ujian teori lah. Ujian praktek lah

    JANGAN MASUK FARMASI
    Anak” kampus saya. Freak! Nerd ☹
    Ga tau fashion, ga tau magazine.
    Mgkn d otak mrk isinya cm
    Blj. Lporan. Praktek, ngumpul”in diktat, bli buku literatur?!

  73. rani_pharmacist Says:

    hallow k’mia…

    hmm,,
    saat ini saya adalah mahasiswi farmasi di salah satu universitas (yang ngakunya universitas terkemuka di indo,,wkkwkwk)

    sejujurnya, saya masuk farmasi karena punya semangat akan melihat secercah cahaya di masa depan..tapi entah mengapa, pertanyaan yang saya dapatkan dari kakak tingkat saya adalah “mengapa memilih farmasi?? farmasi itu susah dek.. dengan praktikum yang ga kenal waktu.. dosen perfeksionis.. kuliah susah.. cari kerja susah.. ga dianggep (bila dibanding dokter,karena katanya bawahan dokter)..dan bla bla bla.. saya jadi takut untuk terjun lebih dalam..

    menurut kakak..
    apa yang salah dengan FARMASI??
    kita kah??
    atau doktrin2nya??

    terimakasih ^^

  74. wuLan Says:

    saya seorang farmasi dan saya bisa lulus 3,5 tahun..

    sata skrg lsg melanjutkan profesi apt di univ swasta di jogja,,

    dak ad yg salah dgn jadi farmasi..kalo ngitungnya duit mulu,,org gg akan pernah merasa cukup..

    apa yg sudah didpt disyukuri dunk,,banyak org yg gg dpt kesempatan kek kita (bc : farmasis) bwt dptin pendidikan apapun..

    jd,,gag usah menggerutu..!!!

Leave a Comment

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.