Setelah kemarin berhasil bertanya-tanya kira2 dimanakah letak Bebek Kaleyo, akhirnya sekitar jam setengah 6 sore, saya dan teman saya, Manik - yang semangat begitu saya bilang mau makan bebek Kaleyo karena pernah dapet deliverynya, dan katanya enak - meluncur dengan bajaj dari ORIFLAME rawamangun ke Jl Waru. Kirain-kirain, tempat itu agak jauh gituw… ternyata bener, deket sama terminal.
Bagi Anda yang naik mikrolet O2 dari Kp Melayu, atau naik mikrolet 04 dari rawasari, atau yang naik angkot-angkot merah yang dari arah kalimalang, pasti lewatin jalan ini kok.
Waktu sampe disana, seperti yang sudah saya duga sebelumnya, penuuuuuuuuuuuuuuhhhhhhhh!!!!!! Beruntung ada dua cewe yang kira2 sebaya duduk berhadap-hadapan di satu sisi meja, jadi saya dan Manik bisa duduk di sisi yang satunya. Kalo di blog orang yang saya baca ada yang komen “aduh, gak tahan ngantrinya… kenyang sama antrian!”, ya emang siy… klo diitung-itung kira2 dari saya order sampe keluar makanan hampir setengah jam.
But it worth waiting begitu liat bebeknya, hehehe…
Saya dan Manik sama-sama order Bebek Cabe Ijo. Menunya sendiri ada bebek goreng, bebek bakar dan bebek cabe ijo. Oh iya, saya pesen 2 potong bebek (utk saya sendiri) sekaligus. Just in case bebeknya kecil kaya di Hoya, huehehehe… *ngeles*
Walopun Manik udah warning, “gede kok!”. Teteuppp… it’s never enough with duck (terutama bales dendam sama bebek hoya dooooggg!!!)
Begitu dateng, wahhhh… iya ya ternyata cukup gede. Ukuran bebeknya kira-kira sama lah dengan bebek Midio di Jatiwaringin itu. Cabe hijaunya juga gak malu-malu menumpuk menutupi potongan bebek dari ujung ke ujung dengan ketebalan setidaknya setengah senti di atas permukaan bebek. Banyak gitu loh. Mouth watering lah lumayan…
Here comes the duck, ladies & gentlemen!!!

Bebeknya empuk banget, just as I expected. Juicy dan berminyak-minyak (terbantu juga oleh minyak dari sambel cabe ijo-nya). Cuma untuk cabe ijonya siy saya masih kurang puas. Klo di Midio, sambel ijonya adalah bener-bener cabe ijo yang diuleg dengan tomat ijo juga, dan pastinya pake bawang putih juga siy, baru dimasak jadi sambel goreng. Sedangkan di Kaleyo, cabe ijonya cenderung kering karena dihancurkan kasar dengan - dugaan saya - food processor. Karena cabenya emang bentuknya cincangan kasar dan ngga pedes.
Proses nguleg lebih efektif mengeluarkan pedas pada cabe karena dengan diuleg, sel-sel di cabe yang mengandung capsaisin akan pecah dan mengeluarkan capsaisinnya, larut ke minyak. Sedangkan proses penghancuran dengan food processor tidak akan membuat kantung-kantung capsaisin pecah secara maksimal. Itu kenapa rasa cabenya ngga pedes-pedes amat.
Tapi sambel mangganya bikin saya memaafkan sang cabe ijo. Sambel mangganya manis, ngga asam kecut kaya di Ginyo. Sayangnya jumlahnya juga sedikit banget. Beruntung saya masih bisa ngorek-ngorek sisa-sisa sambel mangga dari wadahnya *ih jorok yah*
Total yang harus dibayar saya dan manik kemarin hanya 59rebuan. Itu termasuk : 3 potong paha bebek cabe ijo, 2 es teh manis, 2 nasi putih, dan 1 teh botol. Murah.
Jadi, untuk harga berbanding kualitas, saya kasih nilai bebek Kaleyo ini 9.5 deh. Sama dengan bebek Midio deh, soalnya klo makan di Midio jatuhnya juga segitu 